Situs Kolonial Di Banda Neira

1.Benteng Nassau

Benteng Nassau merupakan benteng pertama yang dibangun oleh Belanda di Kepulauan Banda pada tahun 1607. Pada awalnya Portugis yang merupakan bangsa Eropa pertama yang menginjakan kaki di Kepulauan Banda telah mencoba untuk membangun sebuah benteng di lokasi benteng Nassau 1529, namun gagal karena ada perlawanan dari penduduk setempat.  Setelah kedatangan Belanda, Laksama Pieterszoon Verhoeven, seorang komandan armada VOC, mengirim 750 tentara untuk memulai membuat benteng pertahanan, kemudian dibangunlah benteng Nassau di atas fondasi bangunan benteng yang telah dibuat Portugis. Benteng Nassau juga dikenal dengan sebutan “Waterkasteel” atau benteng air karena dikelilingi oleh parit yang digenangi air laut.  Selain sebagai benteng pertahanan, Benteng Nassau juga berfungsi sebagai kantor administrasi VOC Belanda dan juga gudang penyimpanan rempah-rempah sebelum diankut oleh kapal dagang Belanda. Benteng Nassau juga merupakan tempat eksekusi penggal sejumlah “orang kaya” oleh ronin samurai Jepang atas perintah Jan Pieterszoon coen akibat menolak tunjuk kepada VOC.

Gambar Kondisi Nassau

2.Parigi Rante

Gambar Sejarah Parigi Rante

Parigi Rante atau Sumur Rantai telah ada sejak era kolonial Belanda di abad ke-16. Pada tahun 2003, sumur ini dipugar dan diabadikan menjadi monumen Parigi Rante sebagai penanda sejarah pembantaian rakyat Banda oleh Gubernur Jend. Jan Pieterszoon Coen pada tanggal 8 Mei 1621. Akibat dari pembantaian tersebut penduduk kepulauan Banda yang awalnya berjumlah kurang lebih 15.000 jiwa diperkirakan hanya tersisa 1000 jiwa, dari jumlah tersebut 40 orang tua atau tetua adat Banda yang diduga sebagai pemicu pemberontakan ditangkap, dirantai, lalu dieksekusi mati oleh Ronin Samurai Jepang atas perintah VOC. 8 orang kaya dimutilasi menjadi 4 bagian sedangkan sisa 32 dari mereka dipenggal potongan kepala para orang kaya ditancapkan di tiang-tiang bambu dan dipertotonkan kepada rakyat Banda yang hanya tersisa perempuan dan orang tua. Jenazah ke-40 orang kaya dibuang di sebuah sumur yang dikenal dengan sebutan De Poet Van Coen. Tujuh tahun pasca kejadian pembantaian di Banda, mayat para orang kaya diangkat dari dalam sumur untuk dikebumikan secara layak sebagai pahlawan Banda dengan menggunakan kain kafan sepanjang 99 meter yang sekaligus digunakan untuk mencuci sumur. Oleh masyarakat Banda, peristiwa ini diabadikan dalam ritual “Rofaer War”.

3.Benteng Balenciaga

Benteng Lontoir dibangun pada tahun 1624 di pulau Lonthoir (Lonthor, Banda Besar) oleh para pelaut, tentara dan tawanan Jawa yang dibawa ke pulau ini atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pietersz Coen. Benteng ini menggantikan benteng sementara di tepi pantai yang dibuat oleh Coen selama kampanyenya di kepulauan Banda pada tahun 1621. Willem Jansz (1623-1627) mengawasi pembangunannya sebagai gubernur Banda selama pembangunan kemudian gubernur diganti menjadi Peter Vlack (1627-1628) dan mengganti namanya menjadi Hollandia pada tahun 1628.

4.Benteng Hollandia

5.Benteng Revengie

Benteng Belgica awalnya merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh bangsa Portugis pada abad ke-16. Awal pemugaran dilakukan setelah kedatangan penjajah Belanda di Banda Neira atas perintah Gubernur Jenderal Pieter Both pada 4 September 1611 untuk menghadapi perlawanan rakyat Banda yang menentang monopoli perdagangan rempah pala oleh VOC kisaran tahun 1660. Benteng Belgica kembali dipugar hingga mampu menampung 40 serdadu pertahanan benteng. Pada tahun 1669 atas perintah Cornelis Speelman dengan menugaskan Adriaan Leeuw dalam perancangan dan pengawasan pembangunan benteng yang memakan waktu 19 bulan dan biaya yang sangat besar. Selang 10 tahun, pemerintah Belanda mengutus komisaris Robertus Padbrugge untuk melakukan pemeriksaan terhadap pembukaan keuangan.  pembangunan benteng yang diduga banyak korupsi. Pemeriksaan tidak menemui titik terang dikarenakan banyak tuan tanah yang beranggapan bahwa biaya tersebut sebanding dengan hasilnya. Pada tahun 1795 benteng kembali di pugar oleh Francois van Boeckholt Gubernur VOC di Banda yang terakhir, untuk persiapan dalam menghadapi serangan Inggris tepat pada 8 Maret 1796. Benteng Belgica berhasil direbut oleh pasukan Inggris.

6.Istana Mini

7.Rumah Ex-Deputi

Benteng Revengie dibangun pada tahun 1616 oleh VOC, yang terletak di puncak bukit yang dikelilingi oleh perkebunan pala. Awalnya pembangunan benteng ini ditentang oleh petinggi VOC (Heren XVII), namun tetap saja terselesaikan dan dilengkapi dengan persenjataan yang diambil dari sebuah kapal milik Belanda sendiri. Benteng ini berada di ketinggian yang membuat benteng ini terlihat dengan mudah dari kejauhan. Bahkan Prajurit di benteng Revengie dapat mengirim sinyal kepada prajurit di benteng bergica berita kapal-kapal yang masuk ke daratannya. Benteng ini mengalami kerusakan yang cukup parah, bastion yang menghadap ke laut runtuh ketika gempa bumi pada tahun 1683 Pada tahun 1748, Benteng Revengie digunakan sebagai tempat pengasingan para pejabat VOC yang melakukan tindak kriminal. Pada tahun 1753 benteng ini di renovasi dan terus digunakan hingga akhir abas X

Gambar Benteng Balenciaga

Gambar Benteng Hollandia

Denah benteng ini berbentuk bujur sangkar dengan empat bastion di sudut-sudutnya dan satu pintu gerbang di sisi darat dindingnya terbuat dari batu karang setinggi tujuh meter dan setebal satu meter.

Gambar Benteng Revengie

Gambar Istana Mini

Jan Pieterszoon Coen

Patung Charles Rumpley

Tulisan Charles Rumpley

Istana Mini Merupakan bekas kantor sekaligus tempat tinggal para pejabat VOC di Banda Neira pada masa kolonial Belanda. Disebut sebagai Istana Mini karena bentuk bangunannya yang serupa dengan Istana Kepresidenan di Bogor, Jawa Barat dalam skala yang lebih kecil. Istana Mini dibangun pada kisaran tahun 1662, dan pernah ditempati Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai kantor pusat perdagangan saat ia menguasai monopoli perdagangan rempah di kepulauan Banda. Beberapa ruangan di dalam Istana Mini juga dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan rempah pala, fuli dan cengkeh. Selain J.P.Coen, Charles Rumpley, seorang gubernur Perancis yang terakhir ditugaskan di Banda Neira kemudian menempati tempat ini. terdapat kisah Pilu atas kerinduannya terhadap tanah air terukir pada salah satu jendela kaca dalam bahasa Perancis sebelum dia mengakhiri hidupnya.

Di dalam kompleks Istana Mini, selain terdapat bangunan utama yaitu istana mini yang merupakan tempat tinggal gubernur VOC, sebuah dermaga tempat berlabuh kapal-kapal tamu, terdapat juga kantor gubernur VOC atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Ex Deputi berfungsi sebagai kantor pusat pemerintahan VOC yang mampu mengakomodasi seluruh kegiatan administrasi yang dilaksanakan oleh Gubernur VOC beserta anggota pemerintah kolonial Belanda lainnya dalam setiap perencanaan otoritas dan kegiatan monopoli perdagangan rempah pala dan fuli di kepulauan Banda. Rumah Ex Deputi yang khas dengan gaya arsitektur Eropa klasik ini memiliki 8 ruangan. Pada halaman samping yang luas tersimpan patung Raja Willem III serta prasasti dengan tulisan dalam Bahasa Belanda.